© All rights reserved. Powered by VLThemes.

Buku, Musik, Kopi

Rilekslah sejenak dari suasana politik yang dinamis dari pekan ke pekan; mulai dari pilpres, pelantikan presiden dan wakil presiden, demonstrasi belarasa KPK, hingga soal sejumlah nama menteri yang berkenan dan tidak berkenan. Juga, tentu saja berbagai isu yang datang tiada henti, dari radikalisme hingga lem.

Salah satu cara berselonjor pikiran terbaik adalah berangkat ke kafe, menyeruput kopi hitam, dan merenungkan jagat raya. Seperti itulah saya awalnya membayangkan hubungan hidup dan kafe atau kedai saat membaca karya-karya terjemahan Naguib Mahfouz yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia. 

Bacalah, Lorong Miqdad yang berkisah soal pasar dan kedai. Di novel tipis itu, kedai itu ada. Pasar itu ada. Dan, Khan El Khalili Restaurant & Naguib Mahfouz Cafe itu betul-betul nyata dan menjadi salah satu wisata kuliner populer di Kairo yang disambangi turis manca dari Eropa.

Sebagai seorang penikmat kopi, kafe memang membawa saya dalam dunia melankoli yang bersemangatkan soliter. Kopi itu pahit dan kesendirian membikin yang pahit itu makin larut. Sungguh, kopi bukan soal hura-hura, kedai bukan soal hore-hore. Walaupun, keduanya kini menjadi gaya hidup milenial dengan ekonominya yang makin ke sini makin mengilap.

Begitulah, tubuh saya hidup dari kafe ke kafe, dari gelas kopi satu ke gelas kopi lainnya. Ya, saya bisa minum bergelas-gelas kopi di tiga tempat yang berbeda dalam satu hari.

Perkenalan saya dengan kopi dan kafe atau kedai bermula dari kota dengan dinamika yang lambat seperti Yogya. Blandongan, C Kafe, maupun Kedai Kopi, misalnya, memupuk habit saya sebagai penikmat akut kopi. Kebiasaan itu hidup bersama dengan kerja budaya yang saya jalankan secara konsisten: buku, dan kini, musik.

Pada kehidupan buku, saat saya menerbitkan buku bertema filsafat dari Paris di dekade awal milenium, bayangan saya atas sepasang kekasih pikiran, Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, adalah perjumpaan keduanya yang intens di kedai kopi.

Nah, perjumpaan atas keduanya dalam konteks kafe justru saat lakon saya mengurusi musik untuk pertunjukan yang saya kelola. Bukan buku. Jejak mereka saya ziarahi di kedai di mana mereka puluhan tahun silam mencipta dan memikirkan dunia manusia dari benua yang biru. 

Jika musik adalah pekerjaan, mengunjungi kafe-kafe bersejarah adalah sebuah melankoli dengan segala ketakziman. Melankoli itulah yang saya rasakan saat melangkahkan kaki mendorong pintu kafe Les Deux Magots. Pikiran saya berkelana ke nama-nama yang saya sebutkan tadi. Bukan sekadar sebut, melainkan karya mereka saya pernah terbitkan. Termasuk, filsuf Albert Camus yang salah satu karyanya menjadi buku penting dalam penerbitan saya, Pemberontak. Bisa jadi, di salah satu meja kafe inilah Camus merumuskan zine-zine pembangkangannya dan melakukan rapat-rapat revolusioner.

Sebagaimana di Yogya, perjalanan ke Eropa dalam rangka pekerjaan musik, selalu saya sempatkan mencari kafe-kafe yang menyimpan cerita yang jauh. Termasuk, saat  dii Budapest, Hongaria, saya mencari kafe The New York Cafe yang secara historis menjadi kafe penting merancang revolusi secara klandestin oleh aktivis-aktivis radikal. Di kafe ini, semuanya tetap dipertahankan: arsitektural, interior, bahkan menu.

Di London, kala mengurus para penampil untuk Prambanan Jazz maupun konser-konser musik rock, tak lupa saya membenamkan diri berjam-jam dalam Café Bar. Kafe ini ada dalam kompleks London Royal Albert Hall. Inisalah satu situs paling bersejarah di Kota London yang dibuka pertama kali Ratu Victoria pada dua dekade akhir abad 19. Di tempat ini pula pergelaran musik dari musisi besar diselenggarakan. 

Begitu pula saat bertandang ke Wina. Saya mencari kafe Schwarzenberg yang menjadi halte bagi petinggi negara seperti presiden untuk membicarakan politik kenegaraan. Kafe yang tumbuh dan melewati masa pagebluk perang besar dunia ini bahkan tetap mempertahankan menu yang diminum oleh tokoh-tokoh penting Wina dalam siklus sejarah mereka.

Saya membayangkan, kultur kafe sebagai ruang berpikir itu merebak di negeri pascakolonial seperti Indonesia ini. Misal, kita bisa mencari di kedai mana Sukarno kerap bercengkerama dengan sebayanya membicarakan pergerakan nasional secara klandestin. Atau, merevitalisasi ulang kafe di Bandung yang menjadi tempat “ngamen” musisi jaz bernama Wage Rudolf Soepratman yang di saat bersamaan ia kepincut dengan arus pergerakan nasional dan kultur jurnalistik. Atau, melacak ulang dan menghidupkan kafe-kafe yang menjadi tempat berkumpulnya para politisi di Pejambon, Gambir, Jakarta.

Ya, sejarah kafe adalah sejarah sejumlah pekerjaan, mulai dari politik, ekonomi, hiburan, hingga kebudayaan. 

Demikianlah, topik yang menghubungkan buku, musik, dan kopi di pergelaran MocoSik #3 di bulan Agustus 2019 silam, salah satunya adalah melacak ulang relasi penciptaan budaya menyeruput kopi di mana kafe menjadi tungku pemasakan pertemuan, musik sebagai pertunjukan dan upacara, serta dan buku yang menjadi dialektika gagasan.

Hal itu berangkat dari pengalaman panjang saya berinteraksi dengan manusia-manusia buku, budaya, aktivis kopi puritan, dan terlebih-lebih musisi. Konsepsi menghubungkan dealektika kopi (kafe), musik, dan buku sangat memungkinkan lantaran kita punya material soal itu. 

Bayangkan, jauh sebelum kafe kopi “original” dikelola secara baru menjamur seperti saat ini, misalnya, saya menjadikan kafe yang buka pintu sehari semalam untuk memasak gagasan pertunjukan musik. Dan, lahirlah dari kepala saya Trio Lestari. Tentu saja, tidak eksotis kafenya jika saya sebutkan saat ini, Dunkin Donats. Namun, kehadirannya 24 jam tak jauh dari rumah di Kabupaten Sleman, DIY, membantu pemasakan ide pertunjukan. Termasuk, menghidupkan kembali pentas musik rock yang makin ke sini makin sunyi dengan hadirnya JogjaROCKarta yang kini sudah berjalan secara reguler tiga tahun. Sebut juga MocoSik yang merupakan endapan dari bercangkir-cangkir kopi di kafe hingga dieksekusi pertama kali pada 2017 dengan melibatkan para pemangku buku di Yogyakarta.

Percayalah, kafe atau kedai itu ruang dengan kopi sebagai pelumas bekerjanya energi pembangkit ide. Dan, setiap insan kreatif, saya yakin, memiliki kafe-kafe favorit di mana ia bertapa mengerami gagasan-gagasan kreatifnya. 

Akhirul kalam, saya berharap kelak lahir kafe yang dikenang-kenang sampai jauh, sebagaimana Cafe Central di Wina yang saya kunjungi. Kafe yang dibuka sejak 1876 ini menjadi ruang persamuhan ahli-ahli, termasuk nama besar dari dunia psikoanalisis seperti Sigmund Freud. Oh, ya, salah satu buku penting Freud juga saya terbitkan pada 2001, Tafsir Mimpi.

———-

NOTE:

1. Disampaikan pertama kali pada diskusi MocoSik Festival bertajuk “Kopi, Buku, Musik” pada 24 Agustus 2018

2. Pict: Lizgrin F./@lizgrin

Share this:
Top