© All rights reserved. Powered by VLThemes.

Dan, Gamelan pun Menangis

KEPERGIAN maestro musik Rahayu Supanggah pada 10 November 2020 mengganjili rintik dan rintih sedu dunia gamelan. Ia akademisi dan sekaligus pelaku seni tradisi berbasis gamelan yang tidak saja meng-uri-uri gamelan, melainkan juga mengantarkan musik ini berkolaborasi dengan jenis musik lain, jenis musik kontemporer. Juga, pertunjukan seni lain seperti teater dan film.

Lihat saja basis akademis Supanggah. Ia justru mengembangkan gamelan dan dunia etnomusikologi di kota fesyen, Paris. Di kota yang sama, maestro musik yang lain, Slamet Abdul Sjukur, melakukan pencarian dan penjelajahan pada kemungkinan-kemungkinan baru.

Hasilnya tidak main-main. Supanggah, seturut informasi di buku Para Maestro Gamelan (2018:83), membawa kwartet gesek dengan gender, kendang, dan gong pada pertunjukan Kronos Quartet di San Fransisco pada 2009. Supanggah di titik ini disebut-sebut telah menyumbang “sesuatu” untuk world music.

Pertunjukan King Lear (1999), I La Galigo (2004), Opera Jawa (2006), hingga Setan Jawa (2016) mengukuhkan betapa berpengaruhnya Supanggah saat ia diserahi menjadi direktur musik pentas. Penjelajahannya ke dunia seni lain dengan tetap membawa marwah gamelan nyaris tidak bisa dilampaui maestro gamelan yang lain.

Supanggah telah membuka jalan dengan usahanya yang sungguh-sungguh. Ya, di jalan akademik dengan menjadi seorang profesor atau guru dan di lapangan praktik dengan menjadi musisi yang berpentas.

Tidak banyak yang seperti ini, mengangkat tinggi-tinggi musik etnik (Jawa) ke pentas dunia dalam arti yang sesungguh-sungguhnya.

Pencarian yang getih seperti ini juga dilakukan Djaduk Ferianto, yang sama dengan Supanggah, berangkat dari musik etnik, dari musik tradisi.

Sama dengan Supanggah yang berangkat menuju Surga Ilahi pada November (Djaduk wafat 13 November 2019), Djaduk juga mewakafkan nyaris seluruh energi kreatifnya agar bagaimana musik etnik bisa diterima masyarakat dalam segala lapisan; bukan saja Jawa, melainkan suku bangsa lain.

Konser bertajuk “Ethovaganza Concert” pada 1999 saya catat sebagai tonggak bagaimana ngeng yang dibawa Djaduk menjadikan musik etnik sugeng selalu. Instrumen mulut (njeplak), perkusi (unen), kulit (rampak), maupun instrumen dari bambu atau kayu (deling) bisa membangun sebuah harmoni.

Tidak seperti Supanggah yang serius, seorang akademisi, Djaduk memasukkan humor dalam setiap pertunjukannya bersama Kua Etnika.

Ganjil? Iya. Sebab, keganjilan adalah napas perubahan yang diusung Djaduk untuk usahanya bagaimana semua kalangan bisa menerima musik etnik.

Tiang komposisi utama yang dimainkan Djaduk—baik untuk teater maupun konser tunggal bersama Kua Etnika—mudah diidentifikasi. Yakni, rangkaian melodi yang dibunyikan biola atau kibor, diperkuat dengan instrumen gamelan seperti saron, lalu ditingkahi dengan dinamika kendang dan serangkaian racikan improvisasi lainnya. Selanjutnya, ya, permainan tensi, ritme.

Begitulah. Kendang, rebana, beduk, gamelan, telempong, genta, dan seruling tidak lagi semata instrumen pinggiran yang kesepian dan terisolasi. Alat-alat itu di tangan ajaib Djaduk bisa bersinergi membangun musik dan membuat penonton terkini bisa ngeng jiwanya, bisa ber-hahaha dan ber-hihihi secara sugeng di tengah himpitan berat kehidupan.

Lewat musik ngeng itu juga, musik jaz yang terlanjur “elite”, bisa ditarik Djaduk secara halus dan melodius ke kampung lewat pagelaran Ngayogjazz.

Masih satu napas dengan dua sosok awal, sosok ini juga membawa misi hibrida. Sapto Rahardjo (wafat 27 Februari 2009) adalah tokoh yang menghebohkan panggung musik di tahun 80-an ketika ia menampilkan gamelan bersamaan dengan musik elektronik yang sedang hit dengan memakai perangkat lunak midi yang sedang digandrungi anak muda. Tak ayal, wajah Sapto si pengrawit ini pun bisa menghiasi majalah gaul remaja seperti Hai.

Sapto mengambil jalan ijtihad demikian semata agar gamelan tidak menjadi milik komunitasnya sendiri yang makin ke sini makin terbatas. Jika gamelan adalah musik yang memiliki akar kuat, mestinya bisa dinikmati oleh kalangan yang lebih luas.

Lalu, dari tangannya lahirlah karya agung yang bernama Yogya Gamelan Festival (YGF) dengan pertunjukan pertama berlangsung saat kalender masehi menunjuk 15 hingga 17 Agustus 1995. Sapto memilih tanggal seperti itu untuk memerdekakan gamelan.

Dengan YGF itu, Sapto sekaligus melakukan pendataan potensi-potensi musik gamelan dari banyak kota, banyak provinsi. Hasilnya mengagumkan. Komunitas gamelan tiba-tiba saja bermunculan dari banyak kota di Indonesia. Bahkan, ada yang dari Thailand, Jepang, Malaysia, Singapura, hingga Amerika Serikat.

Panggung gamelan Sapto, sebagaimana selalu diimpikannya, adalah panggung spektakuler dengan menggunakan tata suara yang canggih, sejumlah pelantang, serta dua layar lebar untuk proyeksi video di kiri dan kanan panggung. Ditambah lagi kepulan asap buatan mesin, pencahayaan yang berwarna-warni, dan terkadang pula disertai proyeksi slide.

Sapto membawa gamelan ke dunia musik hibrida. Ke dunia konser yang jauh dari “minimalis”. Di panggung YGF, ia memberi rasa bangga kepada pelaku seni gamelan atau musik etnik bahwa mereka tidak ketinggalan kereta zaman. Ijtihad Sapto menempatkan dunia gamelan satu gerbong dengan musik-musik kiwari yang digandrungi anak muda perkotaan.

Akhirul kalam, ketiga mujahid musik gamelan itu–Rahayu Supanggah, Djaduk Feriaanto, dan Sapto Rahardjo—telah berpulang ke hadirat-Nya dan meninggalkan jejak karya yang tak ternilai bagi dunia (konser) musik Indonesia.

Terima kasih, maestro!

———–

NOTE:

Pict: Unplash.com/Adrian Korte/@adkorte

Top