© All rights reserved. Powered by VLThemes.

Eddie Van Halen, Eddie van Rangkasbitung

Bukan perkara sulit menjelaskan, tatkala Eddie van Halen meninggal di Santa Monica, Amerika Serikat, ucapan belasungkawa dari Indonesia umumnya datang dari penggemar-penggemar musik paruh baya seperti saya ini. Maklum, pembentot gitar grup pekak yang disebut sebagai “Singa van California” adalah trendsetter hard rock pada era 80-an di seantero jagat.

Dan, trendsetter ini “dibawa” secara bergelombang oleh majalah remaja yang teramat keren di masanya bernama HAI. Bahkan, konsernya bertajuk Balance Tour di Coliseum Indoor Stadium, Wichita, Kansas terasa dekat dan membara karena jurnalis-jurnalis musik HAI hadir di sana dan menuliskan secara detail apa yang mereka lihat, dengar, rasakan atas kegarangan Sammy, Michael, Alex, dan Eddie. Termasuk, foto tiket masuk mereka.

Kegarangan Van Halen di atas panggung tampak berkobar-kobar saja dalam imajinasi sambil mendengarkan, ya, sayatan gitar Eddie di lagu, misalnya, Not Enough, sambil membuka HAI yang memang memuat lirik dan “kunci nada” lagu tersebut.

Saat saya duduk di kelas 3 MAN 1 Yogyakarta, HAI memang membikin remaja-remaja yang mulai berjakun seperti saya berdecak. Betapa tidak, Van Halen yang baru saja mengeluarkan album Balance nongkrong di sampul depan berkali-kali. Artinya, dibahas sedalam-dalamnya. Terutama, tokoh sentral band itu, yakni Eddie van Halen. Saking sentralnya, ada yang secara berkelakar bilang, setiap album Van Halen sesungguhnya adalah “pelajaran gitar Eddie”.

Saya kutipkan bacaan saat saya menjadi remaja akil baligh: “Ia bukan cuma jenius membuat manuver nada, tapi juga tangkas mengisi peluang-peluang di setiap pergeseran chord. Sehingga, meski terkesan panas, lagu-lagu Van Halen tetap nyaman didengar. Sayatan gitarnya yang edan sanggup membuat atraksi sendiri. Berbeda dengan Yngwie malmsteen yang mahir menciptakan gerakan indah di atas panggung, gaya Eddie cenderung garang. Istilah kerennya, macho. Ini kontras sekali dengan wajahnya yang baby face, imut-imut. Gaya Eddie ini sempat menjadi tren di kalangan gitaris muda Amrik”.

Dan, yang terpenting dari Van Halen adalah ini: lirik-lirik mereka sedapat mungkin menjauhi hal-hal yang berbau seks. Sebab, seturut vokalis awal mereka sebelum keluar untuk berkarier sebagai aktor, David Lee Roth, “Rock ‘n roll bukan sekadar akting bagi Van Halen. Saya sendiri muak melihat rock band palsu yang memaksakan lirik-lirik berbau seks, sementara istri-istri mereka menanti di balik panggung. Padahal, orang-orang itu memakai celana sempit pun sudah tak pantas.”

Allahu akbar!

Pantas saja ada kutipan yang terdengar seperti rocker saleh seperti itu—walau kita tahu Eddie juga dekat dengan alkohol. Itu pun disertai dengan petobatan nasuha. Sabda Eddie: “Saat anak kamu mulai menanyakan kenapa ayah mereka terus saja merokok dan mabuk, saat itulah waktunya untuk berhenti”.

Eddie van Halen sendiri sebetulnya orang rumahan. Lebih banyak berdiam dalam studio untuk berlatih dan berlatih ketimbang keluyuran. Hasilnya, ya, seperti intro di Little Guitars. Orang barangkali menyangka ada rekaman suara gitar lain ditambahkan. Padahal, itu dipetik secara bersamaan.

Penjelasan teknis Eddie, seperti dikutip majalan Zaman (1984), adalah ini: “Pada nada rendah saya melakukan ketukan dan pada saat yang sama saya melakukan trill pada nada tinggi. Saya lakukan itu pada kunci E tinggi dan memindahkan tangan kiri ke E rendah. Saat sampai ke kunci B, saya petik senar B yang terbuka. Bila pindah ke C, saya petik senar G”.

“Tipuan” itu dilakukan Eddie lantaran jarinya cuma lima dan di studionya yang merupakan laboratoriumnya untuk bereksperimen dalam jagat gitar ia mengkhayalkan seandainya jarinya diberi Tuhan enam, pastilah banyak keajaiban. Di studionya itulah, di laboratoriumnya itulah kerap ia bermain-main dengan suara yang sangat keras dengan enam amplifier sekaligus untuk mencapai apa yang Eddie sebut “kesenangan bermain sampai bulu-bulu tangan berdiri; makin keras, makin bersemangat”.

Eddie tahu betul bahwa untuk bisa mendaki ke langit popularitas, untuk bisa menjadi trendsetter, bukan soal banyak gaya, melainkan latihan dengan sangat keras. Karakter memaksakan diri untuk belajar lebih keras barangkali diperolehnya dari pengalaman keluarganya sebagai “orang asing” dalam segalanya, termasuk bahasa Inggris yang tidak mahir.

Lelaki kelahiran Nijmegen, Netherlands, 26 Januari 1955, ini sangat sadar betul di tanah rantau bernama Amerika tidak mudah menjadi manusia yang dipuja jika tidak memiliki keistimewaan yang spesial.

Ia lahir setelah dua tahun kedua orang tuanya meninggalkan Indonesia. Negeri yang baru saja kembali ke sistem NKRI setelah beberapa tahun menjadi “negara federal” bernama Republik Indonesia Serikat (RIS).

Ayahnya, Jan van Halen seorang flaneur. Pemain klarinet dan sirkus pengembara. Pengembaraannya sesungguhnya karena dipaksa oleh perang. Sebagai musisi, ia tidak mau tunduk kepada orang-orang Nazi Jerman yang membuatnya mengambil keputusan untuk hijrah ke Indonesia. Sialnya, ia datang di Indonesia saat api revolusi sedang berkecamuk.

Seperti Multatuli di abad 19, Jan pun akhirnya sampai di Rangkasbitung. Tidak seperti Multatuli yang menulis untuk membongkar kekerasan bangsanya atas orang-orang Rangkasbitung, Jan justru mendapatkan jodoh di sana; seorang dara indo cantik bernama Eugenia van Beers. Jika Saijah dan Adinda dalam kisah Max Havelaar yang ditulis Multatuli dipertemukan oleh derau kemiskinan yang disimbolkan oleh perampasan kerbau, Jan dan Eugenia dipertemukan oleh musik.

Gadis Rangkas ini diboyongnya kembali ke Belanda dengan kandungan besar yang kemudian saat lahir diberi nama Arthur Alexander van Halen atau Alex. Dua tahun kemudian, Edward Lodewiijk van Halen lahir.

Didera oleh kemiskinan di Belanda sepulang dari sebuah negeri jajahan yang tak kalah miskinnya lantaran semua energi sumber dayanya diperas oleh negerinya, Jan memboyong istri dan dua putranya kembali melakukan perjalanan jauh. Melintasi Samudra Atlantik, keluarga Van Halen ini mengadu nasib ke daratan yang ditemukan Kristoforus Kolumbus pada abad 15.

Kata orang Jawa Timur, Jan van Halen ini tipe bonek, bondo nekat. Ia berlayar ke Amerika dengan hanya mengantongi uang 75 gulden. Rupanya, ia punya satu keyakinan: kemampuan musik yang tumbuh dalam dirinya adalah modal nyata untuk hidup. Namun, hidup macam apa itu, ia sendiri tidak tahu.

Keluarga seniman musik ini betul-betul hidup dari keyakinan yang mendarah daging dalam hitam-putihnya nasib mereka; bahwa musik itu, jika dicintai lahir batin, tidak akan membikin mereka lapar. Musik tidak akan membunuh mereka yang mencintainya. Jan dan Eugene bahu-membahu mengajari dua putranya untuk mencintai musik dengan mula-mula mencintai instrumen-instrumennya di tengah diskriminasi yang mesti diterima Alex dan Eddie yang berdarah Eropa dan Asia.

Melawan diskriminasi seperti itulah Alex dan Eddie melawannya dengan belajar lebih keras dan lebih keras dari remaja seusia mereka.

Untuk memberikan penghormatan atas bara hidup dari ayahnya yang seorang musisi pemberani dan pengelana, juga ibunya dari Rangkas, kelak band kedua kakak-adik itu diberi nama Van Halen.

“Ambisi bermain musik saya dapatkan dari ibu,” kata Eddie mengenang ibunya, Eugenia van Beers, perempuan tegar dari Rangkasbitung.

Ya, tersebab dari ibunya pula, bolehlah kita sebut, Eddie—juga Alex—adalah si metal dari Rangkasbitung. Dan, bait sajak “Demi Orang-orang Rangkasbitung” dari W.S. Rendra khusus untuk Multatuli ini layak juga disematkan sebagai ucapan belasungkawa sedalam-dalamnya sebagai sesama “Orang Rangkasbitung” kepada Eddie van Halen yang meninggal karena kanker mulut:

Dan memang tidak relevan lagi bagi saya

untuk merasa sia-sia atau tidak sia-sia,

sebab jelaslah sudah kewajiban saya.

Ialah: hadir dan mengalir.

Eddie, teruslah hadir, teruslah mengalir.

———-

NOTE:

1. Esai ini pertama kali diterbitkan Harian Kompas edisi Minggu, 11 Oktober 2020)

2. Pict: Dominik Scythe/@drscythe

Share this:
Top