© All rights reserved. Powered by VLThemes.

Lagu Sendu dari Prambanan

Di bawah langit jingga senja, penyanyi Leilani Hermiasih Suyenaga terhanyut memainkan piano elektrik Roland RD700SX hitam. Oscar, begitu Leilani menamai pianonya. Di panggung yang membelakangi candi Prambanan, Lani, panggilan akrabnya, melantunkan nomor Mesin Penenun Hujan. Balada itu mendukung suasana sore yang sejuk dan syahdu, bagai rintik hujan yang meneduhkan jiwa yang gundah-gulana. Burung bercericit di antara dentingan piano itu.

“Saya senang sekali. Di sini rumput dan pohonnya indah. Candi dirawat dengan baik,” kata Lani, yang punya nama panggung Frau. Sore itu, Sabtu, 13 Juli 2020, ia salah satu dari tiga penampil yang menghibur penonton Prambanan Jazz Online. Pemusik lain adalah kelompok Langit Sore yang membuka pertunjukan dengan lima lagu. Rio Febrian menutupnya dengan lagu-lagu sendu.

Prambanan Jazz Online, yang disiarkan langsung dari Candi Prambanan, adalah bagian dari Prambanan Jazz Festival yang kali ini berbeda. Pandemi Covid-19 membuat panitia tak bisa menggelar pergelaran musik tahunan itu sepenuhnya dalam bentuk tatap muka. Waktu pergelaran musik tahunan itu sepenuhnya dalam bentuk tatap muka. Waktu pergelaran yang tadi dijadwalkan berlangsung pada 3-5 Juli pun diundur menjadi 30 Oktober–1 November 2020.

Ada 20 ribu orang yang menonton pertunjukan daring tersebut. CEO Rajawali Indonesia, yang juga pendiri Prambanan Jazz Festival, Anas Syahrul Alimi, mengatakan Prambanan Jazz Online menjadi pemanasan sebelum Prambanan Jazz Festival. Panitia menyiapkan teknis acara sesuai dengan protokol kesehatan dari pemerintah. “Misalnya menggabungkan konsep Prambanan Jazz secara online dan tatap muka. Jadi, nanti kami juga tawarkan live streaming.

Dari sisi penonton juga hanya 50 persen dari kapasitas di area candi seperti tahun sebelumnya. Per hari maksimal 7.500 orang penonton. Hal teknis lainnya adalah pemberlakuan aturan penggunaan masker, jaga jarak, dan penggunaan kursi untuk penonton. Tentu saja, semua itu berdampak pada pendapatan hasil penjualan tiket yang bisa turun hingga 50 persen. Sebagian sponsor juga enggan terlibat karena khawatir muncul kluster penularan baru corona.

Sumber Kliping: Koran Tempo, 25 Juli 2020 | “Lagu Sendu dari Prambanan” | Penulis: Shinta Maharani

Share this:
Top