© All rights reserved. Powered by VLThemes.

Menyanyi di Hari Pahlawan Bersama Cornel Simandjuntak

ADA dua musisi yang sudah mengantongi gelar “Pahlawan Nasional”. Pertama, Wage Rudolf Soepratman yang mendapatkannya saat konsolidasi pembangunan orde Baru baru saja dimulai. Ia mendapatkan gelar itu setelah 33 tahun kematiannya atau saat orde Baru (Presiden Soeharto) menggelar pemilu pertama di tahun 1971. Wage mendapatkan penghargaan tersebut lantaran jasa bermusiknya. Lebih khusus lagi karena ia komposer penggubah lagu kebangsaan utama, anthem nasional: Indonesia Raya.

Sosok kedua adalah Ismail Marzuki. Komposer dan pencipta lagu, baik lagu bergenre “kebangsaan” maupun “keroncong”, mendapatkan anugerah Pahlawan Nasional justru belum lama: 2004. Ismail Marzuki berdarah Batavia mendapatkan “sertifikat” itu dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono setelah 44 tahun kematiannya.

Setelah itu, tidak pernah lagi terdengar musisi yang memberi sumbangsih besar atas perjuangan menegakkan Republik di satu sisi, dan namanya terhormat sebagai musisi nasional, menyandang predikat “Pahlawan Nasional”.

Saya ingin mengingatkan lagi bahwa map tua sejarah musik Indonesia masih menyimpan satu nama yang lebih dari layak mendapatkan bintang penghargaan itu. Nama yang sejak saya sekolah di Madrasah Aliyah Negeri I Yogyakarta selalu menjadi “lingua franca“. Artinya, selalu saya sebut, selalu jadi tujuan utama saya ke mana melangkah pada setiap pagi. Bahkan, nama ini telah bersarang di alam bawah sadar. Maklum, sekolah yang melahirkan banyak tokoh nasional terkini itu terletak pada ruas jalan di mana nama sang musisi itu terpahat di sana.

Ya, MAN 1 itu berada di ujung paling utara Jalan Cornel Simandjuntak, Yogyakarta. Lebih kurang 1.095 hari saya beraktivitas sebagai remaja terpelajar di ruas jalan bernama Cornel Simandjuntak itu. Sejumlah hari itu pula saya hidup dalam sirkel Cornel.

Saya tidak tahu, koinsidensi macam apa antara saya dengan Cornel Simandjuntak, antara hari ini saya lebih dikenal sebagai promotor musik ketimbang seorang ustaz.

Atau, Cornel Simanjuntak diam-diam merasuki saya untuk secara total berada di lingkaran music Indonesia. Entahlah.

Jauh waktu setelah saya mengantongi jazah madrasah Aliyah, saya baru insyaf betapa pentingnya anak muda bernama Cornel Simandjuntak ini. Di sastra, kita punya Chairil Anwar. Di musik, ada Cornel Simandjuntak. Dua pemuda dengan nama awal berleter “C” ini punya kesamaan. Selain sama-sama berdarah Batak, dua-duanya juga sama-sama mati muda: 27 tahun. Penyebabnya pun sama, ditidurkan selamanya oleh penyakit paru-paru.

Cornel memang lahir di tanah Batak, tetapi Muntilan, sebuah kota-kecamatan kecil di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menjadi pembibitan bakat bermusiknya. Saat dunia musik dikuasai stambul, keroncong yang penuh rayuan, Cornel tampil dengan sesuatu yang baru. Penegasan yang sama diperlihatkan Chairil Anwar dalam puisi yang menjadi pembatas dengan kelompok sastrawan yang menamakan diri Pudjangga Baru.

Cornel berkeyakinan, musik mestilah satu jiwa dengan tendensi Revolusi yang sedang menaik, saat Indonesia merumuskan jati dirinya. Cornel ambil bagian bagaimana musik menyesuaikan dengan irama berbahasa Indonesia.

Mula-mula, saat Jepang menganeksasi Indonesia, gubahan-gubahan Cornel menjadi pengisi radio. Bahkan, sebagaimana pengakuan Usmar Ismail yang dikutip koran Warta Minggu, No. 227 tertanggal 19 September 1965, Cornel terlibat intensif menggarap “latar belakang musik film” yang dalam sejarah relasi musik dan film nama komposer Idris Sardi lebih punya gema.

Seperti berlomba dengan waktu, Cornel juga menggarap kidung untuk anak-anak. Lagu Mari Berdendang dan Tari Nan Permai adalah titik tolak bagi Cornel menuju penciptaan lagu-lagu bercorak mars seperti yang dimaui arus besar revolusi.

Revolusi tidak butuh nyanyian cengeng yang mendayu. Revolusi membutuhkan penyemangat bagi laskar dan tentara pembebasan nasional di banyak front gerilya.

Cornel menyediakan jiwa, inteletual, dan sekaligus raganya untuk itu. Lagu pembibit kecintaan atas tanah air pun lahir di tengah desingan peluru perang. Sebut saja lagu Kupinta Lagi dan Tanah Tumpah Darahku.

Tetapi, yang paling populer dan mengobarkan kegembiraan di tengah derita perang adalah Sorak-Sorak Bergembira. Tentu saja, yang ini: Maju Tak Gentar. Kedua lagu gubahan Cornel itu abadi sebagai penyemangat yang bukan saja bagi para prajurit muda yang satu masa dengan Cornel, melainkan para laskar pembela tanah air kekinian. Sebut saja, anak-anak pramuka.

Saking moncernya lagu Maju Tak Gentar, di Sumatra Timur, muncul satu paduan suara bergema nasional bernama sama dengan lagu itu. Artinya, betapa Cornel mendapatkan tempat. Bukan sosoknya, melainkan karyanya. Bukan tokoh, melainkan pokok.

 

Musisi di Medan Tempur

Cornel bukan musisi studio. Betul, talenta dini bermusiknya dibesarkan dalam gereja di Muntilan. Tetapi, semangatnya, arah dan ke mana bakat bermusiknya mengarah, dibesarkan dalam sejumlah derita terjajah oleh Jepang dan kemauan yang keras tidak ingin terjajah kembali.

Alasan itu sudah cukup bagi Cornel memanggul senjata dan berperang di Jakarta Raya. Karena “perjanjian diplomatik” soal mana daerah Republik dan mana milik Belanda, Cornel yang berperawakan kecil ini menarik pasukannya ke Karawang. Jika Anda akrab dengan puisi Karawang Bekasi gubahan Chairil Anwar, di situ pulalah sosok Cornel bersabung nyawa untuk Republik.

Di Karawang, ia bawa luka tembak yang mengenai pahanya saat bertempur di Jakarta. Luka itu tidak pernah sembuh. Dengan peluru tetap bersarang di paha, ia dilarikan gerilyawan Republik ke Yogyakarta mengikuti para pemimpin Indonesia yang memindahkan ibu kota negara.

Makin berganda derita Cornel saat diketahui bahwa ia juga terkena paru-paru. Untuk paru-paru, Cornel beberapa waktu lamanya dirawat di sanatorium di Pakem, Yogyakarta; rumah sakit yang sama itu juga pernah merawat Panglima Besar Soedirman saat terkena penyakit paru-paru.

Terbaring dengan dua penyakit itu, Cornel belum menyerah untuk berkarya. Ia menyiapkan satu gubahan yang menjadi pamungkas dari apa yang menggelora dalam dadanya sebagai musisi patriotik, yakni Indonesia Tetap Merdeka.

Bukan hanya itu. Cornel juga menggelisahkan karyanya dalam bentuk musik opera yang tak juga bisa dirampungkannya. Musik opera itu diilhami sajak Sanusi Pane berjudul Madah Kelana.

Sepengakuan komposer L. Manik, Cornel di usianya yang masih sangat muda menyelami gamelan Bali dan mengubahnya dalam semangat ke-Indonesiaan dengan judul Bali Putra Ibu Indonesia.

Sayang, Cornel tidak bisa melewati usia 27 dan karya-karya tersebut tidak pernah bisa dirampungkannya. Ia meninggal pada 15 September 1946 di Yogyakarta dengan meninggalkan musik Indonesia yang ia cintai dengan mempersembahkan dirinya untuk turut serta dalam medan pertempuran.

Lantaran semangat itulah, pemerintahan Sukarno lewat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mencari keluarga Cornel Simandjuntak pada September 1961 untuk menerima anugerah Satya Lentjana Kebudayaan.

Pada 1978, untuk pertama kalinya, berlangsung ritus pemindahan makam Cornel ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Semaki, Yogyakarta. Ritus penting ini muncul didahului sebuah konser “a tribute to” yang digelar Sasana Vocalia Yogya untuk mengenang musik Cornel Simandjuntak.

Sesungguhnya, bukan hanya Yogya yang menyelenggarakan konser mengenang sang komponis patriotik ini, tetapi juga Bandung dan Jakarta.

Di Bandung, konser berlangsung pada 9 Desember 1978 di gedung Gelora Bandung. Yang tampil mengisi mengenang sosok luar biasa ini, antara lain Hutauruk Bersaudara, Rita Butar-Butar, Hetty Koes Endang, Koes Hendratmo, Simangko-Mangko Group, Waty Tampubulon, maupun Rita Simandjuntak.

Konser di Ibu Kota yang menjadi konser nasional mengenang Cornel dilangsungkan pada 17 November 1978. Lihat saja susunan penasehat panitia untuk menggambarkan bagaimana pentingnya sosok ini beserta karya musiknya: Menteri P & K Daoed Jossoe, Frans Seda, Abu Hanifah, Letjen A.J. Witono, Binsar Sitompul, Djayakusumah, Ibu Sud, Gayus Siagian, Kolonel W. Simandjuntak, Kolonel T.R. Simandjuntak, dan Brigjen (Pol) J.I. Silaen.

Belum cukup. Pada 1994, di Gedung Sositet Militer, Kota Yogyakarta, Svara Nubari menggelar konser besar bertajuk “Menyimak Cornel Simandjuntak”. Di konser ini, kelompok paduan suara ini memainkan repertoar ciptaan-ciptaan Cornel, seperti O Angin, Kemuning, Citra, Wijaya Kusuma, Bungaku, Kupinta Lagi, dan Tanah Tumpah Darahku.

Apa artinya? Cornel Simandjuntak adalah anak kandung musik revolusi Indonesia, patriot pembebasan nasional.

Demikianlah, paragraf akhir ini saya pungkasi dengan menuliskan kembali larik-larik akhir dari sajak gubahan (terjemahan?) Chairil Anwar berjudul Karawang Bekasi yang masyhur itu:

Kami sekarang mayat

Berilah kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Bahwa Cornel memang “tinggal tulang-tulang diliputi debu”, tetapi komposisi yang ditinggalkannya tetap abadi. Juga, membawa keriangan dan kegembiraan. Maka, menyanyilah di Hari Pahlawan ini bersama Cornel Simandjuntak, laki-laki kelahiran Pematangsiantar, belajar musik di Muntilan, menjadi guru dan tertembak di Jakarta, serta gugur di Yogyakarta di usia muda, 27 tahun:

Sorak-sorak bergembira

Bergembira semua

Sudah bebas negeri kita

Indonesia merdeka

 

Indonesia merdeka

Menuju bahagia

Itulah tujuan kita

Untuk slama-lamanya.

———

NOTE:

  1. Esai ini diterbitkan pertama kali situs web detik.com, 10 November 2020
  2. Pict: Nina Rizzo/@nina__rizzo
Share this:
Top