© All rights reserved. Powered by VLThemes.

Pada Epitaf Musik 2020, Kami Bersimpuh

Scorpion mengakhiri penampilannya dengan lagu pamungkas Rock You Like A Hurricane dan Klaus Meine dengan fisik yang tidak fit sehabis operasi ginjal berucap terima kasih berkali-kali kepada fan musik rock Indonesia.

Seperti lagu itu, keesokan harinya, 2 Maret 2020, badai dunia bernama virus Covid-19 secara resmi dinyatakan tiba di Jakarta. Wajah Presiden Joko Widodo disorot oleh semua media saat menyebut pasien nomor 1 dan 2 yang terinfeksi.

Saat itu juga, konser musik sudah selesai dalam pengertian yang sesungguh-sungguhnya. Hammersonic Festival adalah festival pertama yang mengumumkan secara resmi pembatalan hanya sepekan setelah pemerintah mengeluarkan “red notice” pandemi.

Bayangkan, apa yang menghantui saya selama beberapa bulan saat menyiapkan kedatangan Scorpions, White Snake, dan The Hu dari Mongolia di pentas JogjaROCkarta benar-benar menjadi kenyataan.

Ya, JogjaROCKarta yang saya inisiasi bersama Bakkar Wibowo dan Ahmad Sobirin itu adalah festival internasional terakhir yang dihelat di panggung musik akbar Indonesia. Hanya berjarak satu malam sebelum larangan dan ketakutan atas semua yang bersifat kerumunan besar mulai diterapkan.

Kepulangan musisi-musisi internasional itu ke negaranya masing-masing di hari pertama pandemi itu seperti kepulangan yang muram. Corona virus is like a hurricane. Tak ada lagi musik dalam perhatian. Semua media berfokus pada angin topan penyakit yang sudah hadir di Jakarta.

Sementara, di lantai bursa yang menjadi “parameter sehat/sakitnya makro ekonomi”, mesin IHSG menderu menuju ke jurang merah resesi. Semua saham unggulan dari perusahaan-perusahaan kawakan satu-satu tidak cukup imun mengerem laju kejatuhan.

Maret adalah bulan yang membuat semua yang biasa menjadi tidak biasa. Termasuk, cara kita melihat dunia, modus kita melihat musik. Wabilkhusus, mengemas musik dalam pentas.

Namun, marilah pembaca saya ajak untuk ke belakang sejenak bagaimana festival musik rock mengubah lanskap penyelenggaraan konser. Tepatnya, di bulan Desember, saat semua hal direfleksikan.

Desember adalah bulan istimewa bagi milestone musik rock di Indonesia. Sebab, di bulan inilah untuk pertama kalinya energi perhatian tertuju saat sarjana Teknik Sipil Universitas Parahayangan Bandung bernama Denny Sabri lewat bendera Buana Ventura dan Aktuil mendatangkan Deep Purple di Jakarta di tahun 1975. Panggung Desember ini pula God Bless untuk pertama kalinya tampil sebagai pendamping utama dan satu-satunya untuk band rock internasional itu dengan membawakan lagu ciptaan sendiri.

Seusai penampilan gemilang David Coverdale dan kawan-kawan pada Desember itu, gemuruh panggung rock di Indonesia seperti tidak terelakkan lagi. Termasuk, duel antara musik rock dan dangdut, antara God Bless dan Soneta, antara superstar Achmad Albar dan Oma Irama.

Kini, kita kembali di sini. Semalam sebelum lalu lintas orang asing masuk-keluar ke Indonesia dibatasi, David Coverdale masih memberikan lengkingan suaranya kepada panggung rock Indonesia di JogjaROCKarta. Namun, bukan sebagai vokalis Deep Purple pada 1975, melainkan White Snake.

Setelah para kalajengking dan ular putih melintasi pintu imigrasi di hari saat semua energi berhadapan dengan pandemi yang mematikan ini, sesungguhnya tidak ada lagi yang bisa direfleksikan tentang dunia musik kita.

Sebab, setelah itu, kita makin sering mendengar toa masjid di dekat rumah di pagi hari yang mengumumkan berita lelayu. Termasuk, lelayu musisi dari segala penjuru bumi. Dari DJ hingga pelantun musik gospel. Dari musisi jazz, pop, hingga rock. Dari Amerika Latin hingga Afrika. Dari Eropa hingga Indonesia. Dari yang sepuh hingga yang muda.

Di tiang kecil nisan para penghibur itu, saya masygul membaca nama-nama mereka: Eddie Van Halen, Armando Manzanero, Charley Pride, Jerry Demara, Tommy DeVito, William Pursell, Trini Lopez, Dave Greenfield, Nick Cordero, Troy Sneed, Mike Huckaby, Fred the Godson, John Prine, Adam Schlesinger, Joe Diffie, Matthew Seligman, Lee Konitz, Ellis Marsalis, John “Bucky” Pizzarelli, Wallace Roney, Alan Merrill, Manu Dibango, Eddy Davis, DJ Black N. Mild, Glenn Fredly, Didi Kempot, dan Rahayu Supanggah.

Pembaca, sekali lagi, tidak ada yang bisa direfleksikan sepanjang 2020 selain jatuhnya musisi dan pekerja panggung di alam kebangkrutan. Serta, mengeja dengan nanar epitaf dari nisan para musisi dunia yang telah memberi segalanya kepada keberlanjutan dunia musik ini sebagai instrumentalia kebudayaan.

Teman-teman saya para musisi dan pekerja di belakang panggung, jaga kesehatan semampu-mampunya dan bertahanlah di batas hidup dan mati ini.

Sebab, kita tidak pernah tahu kapan nama kita disebut dari pelantang suara di masjid terdekat atau melintas di pemberitaan media sosial.

Wallahu A’lam Bisshowab.

————

NOTE

1. Catatan refleksi untuk mengingat tahun 2020 yang lewat di panggung musik Indonesia.

2. Pict: Unsplash.com/Esgo K./@esgok

Share this:
Top