© All rights reserved. Powered by VLThemes.

Persamuhan Kopi

LAMPU kafe satu demi satu mulai dinyalakan setelah tertutupi awan gelap pandemi. Suara-suara musik mulai dihidupkan. Anda tahu, ada ribuan band yang menyandarkan nasibnya pada redup-terangnya ruang kafe.

Dari alam ketakutan, terbitlah kini alam durability di mana kita menata ulang daya tahan hidup kita dengan segala pola baru. Kini, saya bisa masuk lagi ke kafe dengan cara baru, tetapi tetap dengan selera lama: memesan kopi hitam sembari merenungkan jagat raya. 

Seperti itulah saya awalnya membayangkan hubungan hidup dan kafe atau kedai saat membaca karya-karya terjemahan Naguib Mahfouz yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia belasan tahun silam. 

Bacalah Lorong Miqdad yang berkisah soal pasar dan kedai! Di novel tipis itu, kedai itu ada. Pasar itu ada. Dan, Khan El Khalili Restaurant & Naguib Mahfouz Cafe itu betul-betul nyata dan menjadi salah satu wisata kuliner populer di Kairo yang disambangi turis manca dari Eropa.

Sebagai seorang penikmat kopi, kafe memang membawa saya dalam dunia melankoli yang bersemangatkan soliter. Kopi itu pahit dan kesendirian membikin yang pahit itu makin larut. Sungguh, kopi bukan soal hura-hura, kedai bukan soal hore-hore. 

Kompas sudah memberitahu dengan sangat detail soal itu saat menggelar “Jelajah Kopi Nusantara” selama tiga purnama pada medio 2018. Membaca liputan itu secara bersambung membikin roda dunia saya melambat sejenak. Menyusup getir di sana, kegamangan, juga sekaligus kebanggaan dan melankoli. Dari sana, kita tahu ini negeri produsen kopi terbesar ke-4, tetapi selalu terlempar dari persaingan dagang dunia saat membicarakan ekspor dan inovasi.

Lelangut itu mirip dengan roman penting Multatuli yang terbit pertama kali pada 1860,  Max Havelaar. Baca baik-baik subjudul roman yang mempengaruhi Kartini, Tirto Adhi Soerjo, hingga Pramoedya Ananta Toer itu: “Of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij”. Soal kopi, persamuhan, cinta, derita tani, perbudakan, dan koloni dagang internasional.

Begitulah, saat tubuh saya hidup dari kafe ke kafe, dari gelas kopi satu ke gelas kopi lainnya, saya menyesap nyaris tandas semua narasi kopi-kopi Nusantara yang menjadi rempah hitam mengisi kafe-kafe di dunia.

Dari Paris, Budapest, hingga Wina

Pada kehidupan buku, saat saya menerbitkan buku bertema filsafat dari Paris di dekade awal milenium, bayangan saya atas sepasang kekasih-pikiran, Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, adalah perjumpaan keduanya yang intens di kedai kopi.

Perjumpaan atas keduanya dalam konteks kafe justru saat lakoni saya mengurusi musik untuk pertunjukan yang saya kelola. Jejak mereka saya ziarahi di kedai di mana mereka puluhan tahun silam mencipta dan memikirkan dunia manusia dari benua yang biru. 

Jika musik adalah pekerjaan, mengunjungi kafe-kafe bersejarah adalah sebuah melankoli dengan segala ketakziman. Melankoli itulah yang saya rasakan saat melangkahkan kaki mendorong pintu kafe Les Deux Magots. Pikiran saya berkelana ke nama-nama yang saya sebutkan tadi. Bukan sekadar sebut, melainkan karya mereka saya pernah terbitkan. Termasuk, filsuf Albert Camus yang salah satu karyanya menjadi buku penting dalam penerbitan saya, Pemberontak. Bisa jadi, di salah satu meja kafe inilah Camus merumuskan zine-zine pembangkangannya dan melakukan rapat-rapat revolusioner sambil menyesap kopi yang biji-bjinya dipasok kapal-kapal dari Hindia via bandar laut Rotterdam.

Sebagaimana di Yogya, perjalanan ke Eropa dalam rangka pekerjaan musik, selalu saya sempatkan mencari kafe-kafe yang menyimpan cerita yang jauh. Termasuk, saat  di Budapest, Hongaria, saya mencari kafe The New York Cafe yang secara historis menjadi kafe penting merancang revolusi oleh aktivis-aktivis radikal. Di kafe ini, semuanya tetap dipertahankan: arsitektural, interior, bahkan menu.

Di London, kala mengurus para penampil untuk Prambanan Jazz maupun konser-konser musik rock, tak lupa saya membenamkan diri berjam-jam dalam Café Bar. Kafe ini ada dalam kompleks London Royal Albert Hall yang merupakan salah satu situs paling bersejarah di Kota London yang dibuka pertama kali Ratu Victoria pada dua dekade akhir abad 19. Di tempat ini pula pergelaran musik dari musisi besar diselenggarakan. 

Begitu pula saat bertandang ke Wina. Saya mencari kafe Schwarzenberg yang menjadi halte bagi petinggi negara seperti presiden untuk membicarakan politik kenegaraan. Kafe yang tumbuh dan melewati masa pagebluk perang besar dunia ini bahkan tetap mempertahankan menu yang diminum oleh tokoh-tokoh penting Wina dalam siklus sejarah mereka.

Saya membayangkan kafe, atau warung kopi dalam istilah yang lebih lokal, sebagai ruang historis yang penting. Misal, kita bisa mencari di kedai mana pemuda Soekarno bercengkrama dengan sebayanya sesama aktivis radikal di Bandung. Saya bayangkan Sukarno kerap berkunjung ke Kopi Aroma milik Tan Houw Sian, kedai kopi yang masih bertahan sejak 1930, yang letaknya sangat dekat dengan Penjara Banceuy, tempat ia ditahan dan menulis pledoi Indonesia Menggugat

Atau, merekonstruksi di kedai kopi mana kira-kira Wage Rudolf Soepratman ngamen saat tinggal di Bandung pada pertengahan 1920-an? 

Ya, sejarah kafe adalah sejarah sejumlah pekerjaan, mulai dari politik, ekonomi, hiburan, hingga kebudayaan. Dengan kopi pahit, saya menabalkan kepercayaan bahwa setiap insani kreatif punya kafe-kafe favorit di mana ia bertapa mengerami gagasan-gagasan kreatifnya. Termasuk, menabalkan keyakinan dalam diri bahwa kita adalah bumi kopi yang gemah ripah loh jinawi.

Saya berharap kelak lahir kafe yang dikenang-kenang sampai jauh, sebagaimana Cafe Central di Wina yang saya kunjungi. Kafe yang dibuka sejak 1876 ini menjadi ruang persamuhan ahli-ahli, termasuk nama besar dari dunia psikoanalisis seperti Sigmund Freud. Oh, ya, salah satu buku penting Freud juga saya terbitkan pada 2001, Tafsir Mimpi.

———-

  1. Esai ini pertama kali dipublikasikan Kompas, 11 April 2021
  2. Pict: Unplash/Bagir Bahana/@bagirbahana
Top