© All rights reserved. Powered by VLThemes.

Pesan Pretty Boys: Dunia Hiburan Tidak Baik-Baik Saja

Acara lucu-lucuan di televisi diproduksi secara masif. Semua stasiun televisi adu lucu sebanyak-banyaknya. Lomba melucu digaspol. Lucu pun bukan lagi spontan dan natural, tapi menjelma menjadi komoditas yang mendatangkan uang banyak. Di depan layar, lucu adalah impian orang yang jauh dari kotak ajaib, tetapi tangis buat orang yang sudah terjebak di dalamnya.

Saya menyaksikan kegetiran di belakang layar televisi itu setelah menonton film Pretty Boys. Film perdana karya musisi Tompi ini, sebagaimana halnya buku-buku pemikir psikoanalisis seperti Erich Fromm yang saya baca sejak mahasiswa, menangkap substansi terdalam dari jeritan keterasingan manusia pada eksistensinya sendiri.

Satu-satu para komedian–dan/atau para penghibur di dunia hiburan yang glamor–berbaris masuk penjara karena mengonsumsi obat fantasia yang tak diperkenankan hukum positif adalah bukti otentik betapa muramnya cerita ini.

Dunia dikejutkan dan dibikin shock oleh jalan bunuh diri yang ditempuh aktor penghibur Robin McLaurin Williams. Kematian aktor yang memulai kariernya sebagai pelawak solo membikin orang disadarkan kembali betapa tidak kompatibelnya apa yang mereka saksikan di layar dan di kamar kehidupan yang nyata. Yang lucu di layar bisa jadi menjadi tragis di alam hidup nyata yang keras.

Pretty Boys memang berkisah dua komedian yang di alam “nyata” juga sekaligus sebagai tuan rumah (host) sebuah acara di televisi: Deddy Mahendra Desta dan Vincent Rompies. Berangkat dari impian bersama sejak kecil, Rahmat (Desta) dan Anugerah (Vincent), dua sahabat dengan kondisi keluarga di kampung yang berantakan, mempersiapkan diri memasuki dunia kotak ajaib temuan John Logie Baird. 

Bagi dua sahabat ini, si ‘kotak ajaib” ini menjadi impian dan boleh dibilang agama baru yang bisa menyaingi Tuhan yang mereka kenal di musala di kampung mereka. Kegandrungan itu sebagai peneguhan dari apa yang pernah diucapkan Marshall McLuhan sebagai “the medium is the message”. Televisi mengubah persepsi orang, bukan hanya tentang fantasi, tetapi juga kebenaran. Berbagai cara orang lakukan dengan cara berebutan untuk bisa memasuki kotak ajaib yang fantastik itu.

Rahmat dan Anugerah sesungguhnya adalah kita yang kebanyakan. Merindukan hidup mapan lewat lorong sempit glamor yang menjanjikan kesenangan dan kekayaan melimpah-limpah. Dua sahabat ini memang mendapatkannya. Kekayaan dan juga nama besar sebagai penghibur yang lucu juga mereka rengkuh.

Namun, itu dunia simulakra. Dunia yang penuh topeng. Dunia make up. Dunia gula-gula, dunia kembang gula.

Memakai nama acara komedi “Kembang Gula” dengan gimik bencong–naskah tua Bugis La Galigo menyebut gender ini sebagai “calabai” atau bissu–memperlihatkan betapa lucu itu manis, lucu itu gula. Gula itu serupa kembang. Namun, kembang ini bukan bunga nyata di taman. Ia sekadar kembang gula, bukan kembang organik. Manis, tetapi candu dari bahan sintetik yang nonorganik jika tidak tahu cara mengendalikannya.

Lagu “Kembali Pulih Lagi” yang dilantunkan Danilla Riyadi–dia juga menjadi salah satu karakter dalam film ini–menjadi oase dan sekaligus soundtrack klinis untuk mengenali apa yang hilang dalam diri manusia yang ber-make up oleh bedak dan terus-menerus dihujani cahaya gemerlap lampu studio dan tempik sorak penonton (bayaran).

Jaga diri baik-baik, Penghibur. Jangan lupa diri dan ingat musala kecil di sebelah rumahmu yang gemerlap. Di kesunyatan musala itu, sebagaimana ditampilkan tokoh Anugerah, kasih memelukmu. Musala itu adalah klinik psikologi bagi hamba yang terlanjur diperbudak dunia glamor yang langsung mengingatkan masa mahasiswa saya habiskan merengkuh ilmu psikologi (pendidikan).

Dengarkan Danilla Riyadi bernyanyi:

Di seberang lamunan

Kuterbang tersihir alunan mimpi

Ya, mungkin ini yang nanti

Membawaku pergi

‘Tuk selamanya

Kan berbahagia

Bercanda tertawa

Lagi

———-

NOTE:

  1. Pertama kali dipublikasikan di Koran Sindo, 30 September 2019
  2. Pict: Unsplash/Jonathan Cosens Photography
Share this:
Top