© All rights reserved. Powered by VLThemes.

Queen, Brompit, Resesi

Lebih kurang satu dekade sebelum single “Bicycle Race” dirilis band asal British, The Queen, ayah saya ingin sekali memiliki sepeda keluaran terbaru yang keren. Sepeda yang bisa dibawa ke mana-mana. Sepeda berban kecil yang bisa dimasukkan ke dalam koper. Lalu, ditaruh di bagasi mobil.

Tentu, ayah saya tak membayangkan sepeda macam apa itu. Sepeda itu belum pernah dilihatnya. Tidak ada di toko-toko sepeda di Tunjungan, Surabaya. Jika di Surabaya saja tidak ada, bagaimana dengan kota lain. Sepeda kumbang warisan kolonial banyak. Tetapi, sepeda yang bisa dilipat dan dimasukkan dalam koper? Sepeda yang bongkar pasangnya lebih kurang satu setengah menit itu hanya ada dalam iklan majalah. Untuk mendapatkannya, perlu memesannya terlebih dahulu.

Di mana? Italia.

Sepeda itu bernama Bromfiets atau dalam lidah Jawa ayah saya: Brompit. Dibikin perusahaan Bianchi. Informasi yang saya dapat dari majalah pop terbitan Surabaya, Liberty, edisi 1 Juli 19767 (No. 721), harganya selangit: 300 gulden. Bayangkan, di tahun itu uang sejumlah 2 juta rupiah bisa dipakai naik haji tiga kali.

Impian ayah saya ngebrom atau ngepit Brompit pun pupus dan hanya ada dalam angan-angan saat negeri ini sedang melewati krisis kemanusiaan yang luar biasa memilukannya, terutama di Jawa Timur, dengan penyembelihan dan penangkapan besar-besaran atas kaum yang dituduh komunis atau pembela garis keras Sukarno.

Ayah saya memang gagal mencobai Brompit dari Italia saat fajar Orde Baru terbit di Jakarta. Ia seperti ingin memparafrasekan salah satu lagu legendaris Bob Marley, No Bromfiet, no cry.

Walaupun sama-sama dari Italia, dompetnya hanya bisa membeli Vespa seken. Dengan Vespa van Italia itulah mata kecil saya bisa melihat dunia sambil berdiri di bagian tengah saban sore jika langit tidak sedang hujan dan ayah saya memiliki waktu luang.

Saya mengingat kembali cerita ayah saya itu dengan segala impi-impinya menjajal sepeda ajaib bernama Bromfiet itu saat fiet Brompton lalu-lalang di jalanan kota di saat pandemi meremukkan segala sendi masyarakat.

Seperti ayah saya membayangkan Bromfiet, pit Brompton bukanlah sepeda biasa. Dalam kelas sepeda, ia elitenya elite. Bahkan, namanya menjadi perbincangan nasional enam purnama sebelum Covid-19 menyegel ruang gerak manusia Indonesia.

Meditasi di Atas Sadel

Manusia pertapa adalah spesies manusia yang hilang di zaman kiwari, kata Harari di buku Sapiens. Namun, tidak berarti kita kehilangan kesempatan melakukan meditasi, menarik pikiran dari segala yang rusuh, yang serba cepat. Kita bisa memperlambat segala yang cepat.

Bersepeda yang gembira (fun bike) adalah meditasi jiwa dari kerutinan hidup. Tergesa-gesa, tiada hari tanpa diburu target, saling sikut untuk unjuk kekuatan diri adalah bagian dari kerutinan hidup itu.

Dari sisi psikologi, hidup seperti itu sesungguhnya tidaklah sehat. Itu hidup yang sakit. Kehidupan yang rapuh. Pandemi yang berlayar bersama resesi mengonfirmasinya. Betapa tiada berguna semua daftar perencanaan meraih ini dan meraih itu di tahun 2020 dan di beberapa tahun mendatang. Bahkan, jika sebelumnya sebagian besar waktu dihabiskan dari satu perjalanan ke perjalanan lain, dari satu rapat ke rapat yang lain, pandemi menghentikannya secara mendadak.

Semua yang ramai-ramai tiba-tiba diredupkan. Jenis bisnis seperti yang saya geluti ini—yakni, mengumpulkan seramai-ramainya orang dalam pagelaran musik—betul-betul mati. Yang tetap tinggal dan terus melanjutkan hidup adalah para peneguhnya.

Sebab, pandemi dengan tegas mengatakan: stop ke mana-mana. Mau tidak mau, mereka yang mencintai hidup dan tidak ngeyelan adalah menundukkan kepala. Bermeditasilah, renungkan hidupmu di masa depan dengan hidup yang bersih, sehat, efisien.

Sepeda yang ramah terhadap lingkungan dan tidak butuh bahan bakar bisa menjadi salah satu moda meditasi modern. Watak utama sepeda diciptakan bukan untuk menyakiti, melainkan menyehati. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, berarti ada yang keliru.

Pandemi dan resesi ekonomi memaksa setiap orang mengambil kembali sepedanya, sekaligus mengingat lagi lagu ciptaan Pak Kasur di masa kecil yang liriknya nyaris menjadi lingua franca semua generasi itu: Kring Kring Ada Sepeda.

Jalanan pun kembali ber-kring kring. Banyak yang nyinyir dengan kebiasaan “baru” yang sesungguhnya bukan sesuatu yang betul-betul baru di negeri bekas jajahan “Negara Sepeda” seperti Belanda ini. Namun, saya melihatnya dengan mata yang lain. Jalanan yang dipenuhi manusia tua-muda dengan rupa-rupa sepeda itu—dari sepeda berharga normal sesuai kantong pelajar hingga harga sepeda yang selangit—adalah satu lapisan mereka yang sedang bermeditasi di tengah cekikan pandemi dan hempasan resesi.

Yang kaya—mereka juga memiliki koleksi moge dan mobil mahal dengan nomor seri terbatas di rumahnya—oleh pandemi, dibikin menjadi barang mewah yang nirguna. Pembatasan sosial membuat gerak menjadi sangat terbatas dan mereka mau tidak mau menutup sementara garasi kendaraan mewahnya.

Aktivitas terbaik di dunia segala-galanya dibatasi seperti saat ini adalah turun ke jalan mengayuh pedal sampai pada titik dua lutut berteriak serentak dan degup dada meronta, “Cukup!”

Dengan sepeda, semua orang ingin berkeringat. Dengan berkeringat, orang merengkuh sehat jasmani yang dibutuhkan meladeni makhluk tak kasat mata bernama Covid-19 yang sewaktu-waktu bertandang ke paru.

Hanya dalam kondisi sehat jasmani, hati menjadi tenang dan pikiran waras. Dengan pikiran yang waras itulah kita beradaptasi dan tetap kreatif berhadapan dengan akibat-akibat ikutan dari pandemi ini. Sekali lagi, tetaplah waras, walau terpojok oleh resesi. Pada saat itulah kita bisa dengan ringan tanpa beban mendengung bersama The Queen sambil ngepit atau ngebrom:

I want to ride my bicycle

I want to ride my bike

I want to ride my bicycle

I want to ride it where I like.

I don’t wanna be the President of America.

———-

NOTE:

  1. Esai ini pertama kali diterbitkan Harian Kompas edisi Minggu, 6 Desember 2020
  2. Pict: Sam Farallon/@farallon
Share this:
Top